Pesan Terakhir Melalui HT: Jenazah Korban Pamungkas Tragedi ATR 42-500 Berhasil Dievakuasi

Proses evakuasi jenazah korban pesawat ATR 42-500. (dok. Polres Pangkep)

OKSIBIL – Upaya pencarian intensif di lereng pegunungan Papua akhirnya mencapai titik akhir. Tim SAR Gabungan berhasil mengevakuasi korban terakhir dari kecelakaan pesawat ATR 42-500 milik Trigana Air yang jatuh di Distrik Okbape, Kabupaten Pegunungan Bintang. Penemuan ini sekaligus mengonfirmasi laporan mengenai adanya komunikasi terakhir melalui Handy Talky (HT) yang sempat tertangkap sesaat sebelum pesawat hilang kontak.

Kronologi Penemuan Titik Koordinat

Berdasarkan data yang dihimpun dari Badan SAR Nasional (Basarnas), lokasi jatuhnya pesawat ditemukan pada ketinggian 8.300 kaki di wilayah hutan lebat. Upaya evakuasi korban ke-54 ini sempat terkendala oleh cuaca ekstrem dan medan yang curam dengan kemiringan mencapai 45 derajat.

Penyisiran darat diperkuat setelah tim menerima laporan mengenai sinyal komunikasi pendek. Sebagaimana dikutip dari keterangan resmi Kepala Basarnas saat proses pencarian berlangsung, tim di lapangan fokus pada area yang searah dengan transmisi terakhir pesawat. Penemuan korban terakhir ini melengkapi manifes penerbangan yang membawa 49 penumpang dan 5 kru pesawat.

Misteri Pesan di Saluran HT

Salah satu fakta yang mencuat dalam proses investigasi adalah adanya pesan suara yang tertangkap melalui perangkat HT milik warga dan petugas di sekitar Oksibil. Pesan tersebut berisi laporan mengenai kondisi cuaca buruk yang menyelimuti tebing sebelum akhirnya suara tersebut terputus total.

Kepala Pusat Komunikasi Publik Kementerian Perhubungan dalam pernyataannya menegaskan bahwa seluruh data percakapan, baik dari HT maupun Cockpit Voice Recorder (CVR), telah diserahkan kepada Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT). “Semua bukti fisik, termasuk perangkat komunikasi yang ditemukan di lokasi, menjadi kunci untuk merangkai detik-detik terakhir sebelum benturan terjadi,” ungkapnya dalam konferensi pers di Bandara Sentani.

Identifikasi dan Evakuasi Akhir

Proses identifikasi korban terakhir dilakukan oleh tim Disaster Victim Identification (DVI) Polri di Rumah Sakit Bhayangkara. Menurut laporan tim medis, kondisi geografis yang dingin membantu menjaga integritas data primer untuk kebutuhan pencocokan DNA.

Pihak Trigana Air selaku operator pesawat ATR 42-500 menyatakan bertanggung jawab penuh atas hak-hak keluarga korban. Manajemen maskapai menegaskan bahwa pesawat tersebut dalam kondisi layak terbang sebelum berangkat dari Jayapura menuju Oksibil, namun faktor cuaca di pegunungan Papua memang dikenal sangat fluktuatif dan berbahaya bagi penerbangan perintis.

Analisis Keselamatan Penerbangan

Kecelakaan ini menjadi pengingat keras bagi industri penerbangan mengenai tantangan navigasi di wilayah pegunungan. KNKT mencatat bahwa pesawat jenis ATR 42-500 sebenarnya memiliki sistem peringatan darat, namun investigasi mendalam sedang dilakukan untuk melihat apakah sistem tersebut berfungsi optimal saat menghadapi kabut tebal di ketinggian ekstrem.

Dengan ditemukannya korban terakhir ini, operasi SAR secara resmi dinyatakan ditutup. Fokus kini beralih sepenuhnya pada analisis data Black Box untuk mencegah insiden serupa terulang di masa depan.


Referensi Utama: Data diolah dari laporan operasional Basarnas, pernyataan resmi Kementerian Perhubungan Republik Indonesia, dan catatan investigasi keselamatan penerbangan KNKT terkait insiden ATR 42-500 di wilayah Papua.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *