Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa di Gedung Kementerian Keuangan, Jakarta. (ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto)
JAKARTA – Menteri Keuangan Republik Indonesia, Purbaya Yudhi Sadewa, membongkar penyebab utama di balik rontoknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang memicu trading halt beruntun pada akhir Januari 2026. Purbaya menyebut adanya kesalahan fatal yang dilakukan oleh Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI), Iman Rachman, yakni kegagalan dalam merespons peringatan dan masukan dari lembaga indeks global, Morgan Stanley Capital International (MSCI).
Kritik tajam ini mencuat setelah IHSG mengalami koreksi sangat dalam hingga menyentuh level 8.300-an, jatuh lebih dari 7% dalam satu hari perdagangan pada Rabu (28/1/2026). Dampak dari guncangan pasar ini berujung pada pengunduran diri Iman Rachman dari kursi nomor satu di bursa pada Jumat (30/1/2026).
Kelalaian Respons Terhadap Isu Transparansi MSCI
Purbaya menjelaskan bahwa MSCI sebenarnya telah memberikan catatan kritis mengenai struktur pasar modal Indonesia, terutama terkait transparansi data free float (saham publik) dan aksesibilitas pasar. Namun, masukan tersebut dinilai tidak ditindaklanjuti secara serius oleh otoritas bursa.
“Itu kesalahan dia yang fatal di situ, sehingga kita mengalami koreksi yang dalam kemarin. Kalau tidak cepat dibetulkan, bisa mengganggu yang lain-lain,” ujar Purbaya Yudhi Sadewa saat ditemui awak media di Jakarta, sebagaimana dilaporkan oleh Bloomberg Technoz dan CNN Indonesia.
MSCI memutuskan untuk membekukan perlakuan indeks bagi saham-saham Indonesia. Artinya, tidak ada penambahan bobot atau konstituen baru asal Indonesia dalam indeks global tersebut hingga Mei 2026. Keputusan ini menjadi sentimen negatif bagi investor asing yang sangat bergantung pada standar MSCI dalam mengalokasikan portofolio mereka.
Dampak Masif: IHSG Ambruk dan ‘Trading Halt’
Kelalaian dalam melakukan follow up terhadap MSCI berdampak langsung pada kepercayaan pasar. Berdasarkan data RTI Business, IHSG sempat anjlok hingga 8% pada sesi perdagangan Rabu (28/1/2026), yang memaksa BEI menarik rem darurat melalui mekanisme pembekuan sementara perdagangan atau trading halt.
Sentimen negatif ini dipicu oleh kekhawatiran bahwa pasar modal Indonesia dianggap kurang transparan dan masih marak dengan praktik “saham gorengan”. Purbaya menegaskan bahwa pemerintah sedang bekerja keras memperbaiki fundamental ekonomi, namun kinerja otoritas bursa justru menjadi titik lemah.
“Dia (Dirut BEI) menganggapnya ekonomi tidak stabil, padahal saya perbaiki ekonomi dengan sungguh-sungguh. Kemarin orang Bea Cukai saya ganti 34-35 orang, minggu depan sekitar 70 orang pajak akan saya putar. Jadi kita melakukan perbaikan yang nyata,” tegas Purbaya melalui laporan Metro TV.
Pengunduran Diri Sebagai Bentuk Tanggung Jawab
Merespons tekanan yang kian masif, Iman Rachman resmi mengundurkan diri sebagai Direktur Utama BEI. Langkah ini diapresiasi oleh Purbaya sebagai sinyal positif untuk memulihkan kepercayaan investor global. Menurutnya, pengunduran diri tersebut adalah bentuk akuntabilitas kepemimpinan atas kegagalan sistemik dalam menjaga stabilitas pasar.
“Saya pikir ini positif sebagai bentuk tanggung jawab dia terhadap masalah yang timbul di bursa kemarin,” tambah Purbaya. Saat ini, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) tengah memproses penunjukan Pelaksana Tugas (Plt) Dirut BEI untuk memastikan operasional bursa tetap berjalan stabil di tengah upaya reformasi pasar modal.
Optimisme Pemulihan dan Target IHSG 10.000
Meski terjadi guncangan hebat, Menteri Keuangan mengimbau investor untuk tetap tenang dan melihat kondisi ini sebagai peluang investasi (good time to buy). Ia optimistis bahwa dengan koordinasi bersama OJK dan Bank Indonesia, persoalan transparansi yang diminta MSCI akan tuntas sebelum tenggat waktu Mei 2026.
Pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi tetap berada di angka 6% pada tahun ini. Dengan fundamental ekonomi yang kuat, Purbaya bahkan memproyeksikan IHSG masih berpeluang bangkit dan menembus level 10.000 pada akhir tahun 2026 mendatang.
Referensi Utama:
-
Laporan Analisis Pasar Saham (Januari 2026) – Bloomberg Technoz & CNBC Indonesia.
-
Pernyataan Resmi Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa (30/1/2026) – Metro TV & CNN Indonesia.
-
Data Statistik Perdagangan Bursa Efek Indonesia (RTI Business).
