Presiden Prabowo Subianto memberikan arahan dalam acara pembekalan guru dan kepala Sekolah Rakyat di Jakarta International Expo, Jakarta Pusat, 22 Agustus 2025. Tangkapan Layar YouTube Sekretariat Presiden. Sumber Foto: tempo.co
JAKARTA – Presiden Prabowo Subianto dalam beberapa kesempatan terakhir melontarkan pernyataan keras terkait adanya pihak-pihak di dalam negeri yang ia sebut sebagai “antek asing”. Tudingan ini muncul sebagai respons terhadap berbagai kritik dan hambatan yang dihadapi pemerintah dalam menjalankan program strategis nasional, termasuk transformasi ekonomi dan ketahanan pangan.
Pernyataan Tegas di Hadapan Publik
Salah satu momen paling menonjol terjadi saat Presiden Prabowo memberikan pengarahan kepada para guru dan kepala sekolah dalam acara Pembekalan Sekolah Rakyat pada Agustus 2025 lalu. Dalam pidato yang berapi-api, sebagaimana dilaporkan oleh kanal resmi MerdekaDotCom, Presiden menyatakan kekecewaannya terhadap segelintir elite yang dianggap lebih mementingkan kepentingan luar negeri daripada kemajuan bangsa.
“Ada segelintir orang, entah sadar atau tidak sadar, mereka sudah jadi antek asing. Mereka tidak suka Indonesia bangkit,” tegas Presiden Prabowo dalam sambutannya. Ia menambahkan bahwa upaya pemerintah untuk menguasai kekayaan alam demi kemakmuran rakyat sering kali mendapat perlawanan dari dalam negeri yang justru seirama dengan kepentingan asing.
Narasi ‘Indonesia Tidak Bodoh’ dalam Diplomasi Ekonomi
Memasuki awal tahun 2026, narasi ini kembali diperkuat. Pada pertengahan Februari 2026, saat meresmikan proyek ketahanan pangan dan infrastruktur Polri, Presiden kembali menyentil pihak-pihak yang terus menjelekkan citra Indonesia di mata internasional. Mengutip laporan dari Bisnis TV, Prabowo secara terbuka memperingatkan bahwa pemerintah memantau setiap pergerakan yang berupaya melemahkan posisi tawar Indonesia.
“Kita tidak bodoh. Please, untuk temanku, Indonesia tidak bodoh. Kita tahu apa yang sedang terjadi,” ujar Prabowo, merujuk pada upaya sabotase terhadap kebijakan hilirisasi dan kemandirian ekonomi.
Fokus pada Ketahanan Pangan dan Hilirisasi
Tudingan mengenai “antek asing” ini sebenarnya bukan hal baru bagi Prabowo. Sejak masih menjabat sebagai Menteri Pertahanan, ia kerap mengaitkan penolakan terhadap proyek Food Estate sebagai agenda asing untuk menjaga Indonesia agar tetap bergantung pada impor pangan. Hal ini senada dengan laporan Tribunnews yang mencatat konsistensi Prabowo dalam menggunakan istilah tersebut untuk merujuk pada pengkritik kebijakan swasembada.
Analisis dan Dampak Politik
Para pengamat politik menilai bahwa penggunaan istilah “antek asing” merupakan strategi retorika nasionalisme untuk menggalang dukungan publik di tengah tantangan ekonomi global. Namun, langkah ini juga memicu diskusi mengenai batasan antara kritik konstruktif dan tuduhan pengkhianatan.
Hingga saat ini, pihak Istana Kepresidenan menegaskan bahwa pernyataan Presiden adalah bentuk komitmen untuk melindungi kedaulatan nasional. Presiden Prabowo memastikan pemerintah akan tetap melaju meski dihujani kritik, dengan menutup salah satu pidatonya menggunakan pepatah populer: “Biar anjing menggonggong, kafilah tetap berlalu.”
Referensi Utama & Atribusi:
-
Merdeka.com: Liputan pidato Presiden Prabowo pada acara Pembekalan Sekolah Rakyat (Agustus 2025).
-
Bisnis TV: Laporan peresmian infrastruktur ketahanan pangan dan pernyataan “Indonesia Tidak Bodoh” (Februari 2026).
-
Tribunnews: Dokumentasi pernyataan Presiden terkait hambatan kebangkitan Indonesia oleh pihak eksternal melalui perpanjangan tangan domestik.
-
Sekretariat Presiden: Siaran pers mengenai penegakan hukum dan investasi sebagai kunci keberhasilan nasional.
