Trauma Makanan Basi, SD Muhammadiyah 1 Temanggung Tegas Tolak Program MBG

Trauma Makanan Basi, SD Muhammadiyah 1 Temanggung Tegas Tolak Program MBG

TEMANGGUNG – SD Muhammadiyah 1 Temanggung secara resmi menyatakan sikap keberatan dan menolak pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di lingkungan sekolah mereka. Keputusan berani ini diambil setelah pihak sekolah mengaku mengalami pengalaman pahit berupa temuan makanan tidak layak konsumsi (basi) yang dikirimkan oleh pihak penyedia.

Kronologi Penolakan dan Temuan Makanan Basi

Penolakan ini bukan tanpa alasan. Kepala Sekolah SD Muhammadiyah 1 Temanggung, Trias Wahyuni, mengungkapkan bahwa rasa trauma menjadi faktor utama di balik keputusan tersebut. Menurut keterangannya, peristiwa temuan makanan basi ini bukanlah yang pertama kali terjadi, melainkan sudah memasuki insiden kedua.

Insiden terbaru terungkap saat pihak sekolah melakukan pengecekan rutin terhadap paket makanan yang baru saja tiba. Para guru menemukan aroma tidak sedap dan perubahan tekstur pada lauk pauk yang seharusnya dikonsumsi oleh para siswa. Demi menjaga keselamatan dan kesehatan anak didik, pihak sekolah langsung menghentikan distribusi makanan tersebut.

Pernyataan Kepala Sekolah: “Kami Sudah Trauma”

Dalam keterangannya kepada awak media, Trias Wahyuni menekankan bahwa keselamatan siswa adalah prioritas yang tidak bisa ditawar. Ia menyatakan bahwa ketidakprofesionalan penyedia jasa boga dalam menjaga kualitas asupan gizi sangat mengecewakan pihak sekolah.

“Kami sudah trauma. Ini adalah kejadian kedua kalinya kami mendapatkan kiriman makanan basi. Sebagai institusi pendidikan, kami tidak ingin mengambil risiko sekecil apa pun terkait kesehatan anak-anak. Oleh karena itu, kami memutuskan untuk menolak kelanjutan program ini di sekolah kami sampai ada evaluasi total,” ujar Trias Wahyuni dengan tegas.

Analisis Risiko Kesehatan Siswa

Secara medis, konsumsi makanan basi pada anak-anak sangat berisiko menyebabkan keracunan makanan akut, yang ditandai dengan gejala mual, muntah, hingga dehidrasi berat. Mengingat sistem pencernaan anak sekolah dasar masih dalam masa pertumbuhan, kualitas kontrol (QC) dari pihak katering seharusnya menjadi syarat mutlak yang tidak boleh terabaikan.

Pihak sekolah menyayangkan lemahnya pengawasan dari rantai distribusi program MBG di wilayah tersebut. Kejadian berulang ini mengindikasikan adanya masalah serius pada standar operasional prosedur (SOP) penyediaan makanan massal.

Langkah Selanjutnya dan Harapan Sekolah

Hingga berita ini diturunkan, SD Muhammadiyah 1 Temanggung memilih untuk kembali ke sistem mandiri, di mana orang tua siswa diimbau untuk membekali anak-anak dengan makanan dari rumah yang terjamin kebersihannya. Pihak sekolah berharap pemerintah dan dinas terkait melakukan audit menyeluruh terhadap vendor atau pihak ketiga yang ditunjuk sebagai penyedia program MBG.

Langkah tegas dari SD Muhammadiyah 1 Temanggung ini diharapkan menjadi alarm bagi penyelenggara program di daerah lain agar lebih selektif dan ketat dalam mengawasi kualitas makanan sebelum sampai ke tangan siswa.


Referensi Utama: Laporan ini disusun berdasarkan pernyataan resmi Kepala Sekolah SD Muhammadiyah 1 Temanggung, Trias Wahyuni, dalam wawancara terkait evaluasi program makan siang di lingkup sekolah Muhammadiyah wilayah Jawa Tengah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *