
BANJAR,09 -05-2026 – Seulas senyum di gerbang kota tak lagi mampu menyembunyikan wajah kusam Kota Banjar. Sebagai kota otonom yang lahir dari rahim reformasi, Banjar kini justru terlihat seperti pelari yang kehabisan napas di tengah lintasan. Alih-alih melesat, kota ini seolah terjebak dalam pusaran stagnasi yang mengkhawatirkan.
Kritik tajam ini datang dari salah satu aktivis mahasiswa di Kota Banjar mulai menyuarakan kegelisahan kolektif mengenai kondisi daerah yang dianggap sedang berada di titik nadir.
Ekonomi yang “Jalan di Tempat”
Indikator paling nyata dari hilangnya tenaga kota ini adalah denyut ekonomi yang kian melemah. Pusat-pusat perbelanjaan yang dulu digadang-gadang menjadi ikon kemajuan, kini sepi pengunjung.
“Kita melihat Banjar hanya menjadi kota transit yang gagal menangkap peluang. Tidak ada magnet ekonomi baru yang diciptakan. Investasi lesu, dan lapangan kerja bagi lulusan baru hampir tidak ada,” ujar Sandi M Putra salah satu aktivis mahasiswa banjar.
Data menunjukkan bahwa angka pengangguran dan migrasi produktif keluar daerah tetap tinggi. Anak muda Banjar lebih memilih mencari peruntungan di kota besar karena tanah kelahiran mereka dianggap tidak lagi mampu memberi harapan hidup yang layak.
Pembangunan Fisik vs Jiwa Kota
Secara kasat mata, infrastruktur memang terus dipoles. Namun, para aktivis menilai pembangunan tersebut kehilangan “ruh” dan tidak berdampak langsung pada kesejahteraan rakyat.
Taman-taman kota yang dibangun dengan biaya besar seringkali berakhir jadi pajangan mati tanpa aktivasi kegiatan publik yang produktif.
Sektor Pertanian dan UMKM yang seharusnya menjadi tulang punggung, justru terkesan berjalan tanpa pendampingan yang serius dan berkelanjutan.
Kepemimpinan dan Visi yang Kabur
Kritik paling pedas diarahkan pada pemegang kebijakan. Sandi menilai ada degradasi visi kepemimpinan dalam beberapa tahun terakhir. Birokrasi dianggap terlalu nyaman di zona aman, terjebak dalam rutinitas administratif tanpa inovasi yang progresif.
“Banjar butuh kejutan listrik, bukan sekadar pemeliharaan rutin,” tegas Sandi dalam diskusi publik baru-baru ini. Sandi menuntut pemerintah kota untuk:
1.Re-evaluasi Kebijakan Ekonomi: Fokus pada sektor unggulan yang konkret, bukan sekadar seremonial.
2.Transparansi Anggaran: Memastikan setiap rupiah APBD benar-benar menyentuh kebutuhan dasar masyarakat.
3.Ruang Kreativitas: Membuka ruang bagi anak muda untuk terlibat dalam pembangunan kota secara substantif.
Menolak Menyerah pada Keadaan
Narasi “Banjar di Titik Nadir” bukanlah sebuah pesimisme buta, melainkan sebuah alarm peringatan (wake-up call). Mahasiswa menegaskan bahwa mereka tidak akan tinggal diam melihat kota ini perlahan mati suri.
Jika pemerintah tetap menutup telinga dan bekerja “business as usual”, maka jangan salahkan jika gelombang protes akan semakin besar. Banjar memiliki potensi, ia hanya butuh pemimpin yang mampu menyalakan kembali apinya, bukan sekadar mereka yang duduk manis menonton bara yang kian meredup.
Kota Banjar tidak sedang kekurangan orang pintar, ia hanya sedang kehilangan arah dan keberanian.
