Ciamis, kabar akan dibukanya lahan sawit di Kabupaten Ciamis menjadi perbincangan warung kopi Aktivis dan Masayarat peduli kearifan lokal terkait dampak buruk bagi lingkungan dan sosial. Walaupun kebenarannya masih perlu di pastikan dan benar terjadi, namun sangat menarik untuk dibahas dan benarnya ini menjadi ruang diskusi dan belajar, mengingat jauh sebelumnya Kabupaten Ciamis belum pernah membuka lahan perkebunan sawit.

kebayakan masyarakat lebih memilih Kelapa dan Aren sebagi bagian dari mata pencaharian lokal, selain mudah di olah dan nilai jual juga cukup tinggi. Mamun sebagai perbandingan kita juga harus mengukur dampak baik dan buruk ketiga tanaman ini, terutama dengan kultur dan budaya masyarakat Ciamis.
Dampak Buruk Sawit bagi Lingkungan diantaranya dalam Ekspansi lahan perkebunan sering menyebabkan deforestasi, merusak habitat satwa apabila dilakukan di Kawasan Lindung dan mengganggu ekosistem hutan, dampak lain juga seperti kebakaran lahan yang disengaja untuk membuka kebun demi menekan biaya. Dampak paling serius ialah dengan meningkatnya emisi gas rumah kaca.
Tidak hanya soal kerusakan lingkungan yang stimulan, dampak Sosial juga Kadang bisa terjadi. Seperti terjadi konflik lahan antara perusahaan dengan masyarakat lokal akibat peraampasan atau tidak jelasnya hak kepemilikan.
dan tentu saja kesenjangan keuntungan juga sering muncul, di mana sebagian besar keuntungan dinikmati oleh pihak perusahaan dan hanya sebagian kecil yang sampai ke petani rakyat.
Begitu juga dengan Perkebunan kelapa yang telah menjadi mata pencaharian turun temurun Masayarakat Ciamis dengan perkebunan sawit.
Dari segi ekonomi Sawit memiliki produktivitas minyak yang tinggi kurang lebih enam ton per hektare dan permintaan pasar global yang cukup besar, sehingga memberikan pendapatan besar bagi devisa negara.
Kelapa juga tidak kalah besar, jika dikelola secara profesional kelapa dapat memberikan pendapatan bersih yang lebih tinggi mencapai Rp12 juta per Hektar.
Di sisi lain Kelapa juga lebih fleksibel dalam hal pengolahan dan penyimpanan hasil panen, karena buahnya bisa disimpan lama dan olahannya bisa dilakukan secara mandiri, berbeda dengan sawit yang harus segera diproses setelah panen.
Dampak Lingkungan bagi perkebunan klapa biasanya tumbuh secara lebih tersebar dan tidak selalu membutuhkan pembukaan lahan luas secara dan sistematis seperti sawit.
Namun, kebun kelapa rakyat yang tidak dikelola dengan baik juga dapat menyebabkan masalah seperti erosi tanah. Walaupun dari sisi penyerapan karbon, sawit lebih unggul dibandingkan hutan dan kemungkinan juga kelapa, namun ancaman kerusahan keanekaragaman hayati di kebun sawit cenderung lebih tinggi.
Tidak kalah penting dampak terhadap Sosial juga sangat terasa, Perkebunan atau budidaya kelapa lebih banyak dilakukan oleh petani kecil dan memiliki peran penting dalam kehidupan masyarakat lokal, terutama dalam memenuhi kebutuhan pangan dan bahan bakar rumah tangga. bahkan konflik sosial terkait lahan juga lebih jarang terjadi dibandingkan dengan sawit.
Dibeberapa Kecamatan di Kabupaten Ciamis seperti Pamarican dan Tambaksari memiliki peran penting dalam stabilitas ekonomi Masayarakat lokal, seperti di Desa Mekarmulya Kecamatan Pamarican dikenal dengan penghasil gula aren terbesar di Kabupaten Ciamis dan berkualitas tinggi. bahkan masayarakat sudah mengenal sebagai kampung aren.
menurut catatan pemerintah Desa Mekarmulya yang ditulis dalam laman websitenya mampu menghasilkan 200 ton salam satu tahun.
Jadi tentu saja dari segi ekonomi Aren memiliki potensi ekonomi yang besar dengan menghasilkan berbagai produk, meskipun produktivitas nilai ekonomi per hektare mungkin tidak sebesar sawit pada skala besar, aren membutuhkan investasi awal yang lebih kecil dan dapat tumbuh di lahan kecil maupun dengan tanah dengan produktivitas rendah dan kesuburan terbatas.
Dari segi Lingkungan Aren lebih ramah karena dapat tumbuh secara alami atau dengan sistem tumpang sari, sehingga tidak menyebabkan deforestasi dan dapat membantu rehabilitasi lahan terdegradasi. sangat berbeda dengan Perkebinan Sawit yang tidak bisa berasaing dengan tumbuhan lain.
Dan terakhir dari segi kultur sosial, budidaya aren telah menjadi bagian dari budaya dan kehidupan masyarakat lokal di banyak daerah Indonesia selama berabad-abad. Pengembangan aren juga lebih banyak memberikan manfaat langsung kepada masyarakat lokal, karena proses penyadapan dan pengolahan nira biasanya dilakukan oleh masyarakat sendiri. Selain itu, aren juga dapat meningkatkan ketahanan pangan dan energi lokal.
Turehan Ashuri, Pegiat Lingkungan di Wahana Lingkungan Hidup Indonesia atau Walhi (07 Januari 2026)
