Gunung Semeru terpantau mengeluarkan kolom abu vulkanik. Warga dan penambang pasir diimbau untuk menjauhi sektor tenggara di sepanjang Besuk Kobokan guna menghindari ancaman awan panas guguran. Sumber Foto: Foto: TIMES Indonesia (cdn-1.timesmedia.co.id)
LUMAJANG – Aktivitas vulkanik Gunung Semeru di Jawa Timur kembali menunjukkan peningkatan signifikan dalam beberapa hari terakhir. Berdasarkan pengamatan visual dan kegempaan yang dilaporkan oleh Pusat Vulkanisasi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), gunung tertinggi di Pulau Jawa ini terpantau meluncurkan kolom abu serta mengalami peningkatan getaran banjir lahar dingin, yang memicu kewaspadaan tinggi bagi warga di lereng gunung.
Kronologi Peningkatan Aktivitas Vulkanik
Peningkatan aktivitas ini tercatat mulai intensif sejak Sabtu (17/1/2026) pagi. Petugas Pos Pengamatan Gunung Api (PPGA) Semeru di Gunung Sawur melaporkan adanya guguran lava pijar dan kolom abu vulkanik yang membubung setinggi 500 hingga 800 meter di atas puncak kawah Jonggring Saloko. Fenomena ini didominasi oleh hembusan gas dan gempa letusan yang frekuensinya meningkat dibanding pekan sebelumnya.
Kondisi ini diperparah dengan curah hujan tinggi di wilayah puncak, yang meningkatkan risiko terjadinya banjir lahar dingin di sepanjang aliran sungai yang berhulu di Gunung Semeru, terutama di daerah aliran Besuk Kobokan, Besuk Bang, dan Besuk Kembar.
Respons Pemerintah dan Zona Merah
Menanggapi kondisi tersebut, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lumajang telah menyiagakan personel di titik-titik rawan. Sesuai dengan rekomendasi PVMBG (Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi), status Gunung Semeru saat ini masih bertahan pada Level III (Siaga).
Kepala Pelaksana BPBD Lumajang memberikan peringatan tegas kepada masyarakat agar tidak melakukan aktivitas apa pun di sektor tenggara sepanjang Besuk Kobokan, sejauh 13 kilometer dari puncak (pusat erupsi). Di luar jarak tersebut, masyarakat juga dilarang beraktivitas pada jarak 500 meter dari tepi sungai sepanjang Besuk Kobokan karena adanya potensi perluasan awan panas dan aliran lahar.
Kutipan Langsung dari Otoritas Terkait
Petugas Lapangan Pos Pengamatan Gunung Api Semeru, Ghufron Alwi, dalam laporan tertulisnya menjelaskan bahwa fluktuasi ini merupakan bagian dari siklus aktif Semeru, namun intensitasnya perlu diantisipasi secara ekstra.
“Kami mengimbau warga untuk tetap tenang namun jangan abai. Terutama bagi masyarakat yang berada di jalur aliran sungai, harap segera mengevakuasi diri secara mandiri jika melihat mendung tebal di puncak atau debit air sungai meningkat secara mendadak,” ujar Ghufron Alwi dalam keterangan resminya.
Mitigasi dan Langkah Penyelamatan
Hingga saat ini, warga di Desa Sumberwuluh dan Desa Supiturang dilaporkan mulai membatasi aktivitas di luar rumah. Tim reaksi cepat telah disebar untuk memantau pergerakan material vulkanik dan memberikan edukasi langsung mengenai jalur evakuasi terbaru.
Bagi pengguna jalan dan penambang pasir, pemerintah daerah telah memberlakukan penutupan sementara pada beberapa akses yang bersinggungan langsung dengan jalur aliran lahar untuk menghindari korban jiwa akibat banjir material yang bisa datang sewaktu-waktu.
Referensi Utama: Data dalam artikel ini disarikan dari laporan berkala Magma Indonesia (PVMBG – Badan Geologi KESDM) serta informasi terkini dari BPBD Kabupaten Lumajang mengenai status kebencanaan di wilayah Jawa Timur.
