Jet tempur siluman F-22 Raptor AS tiba di Timur Tengah saat Iran bersiap untuk menyerang Israel. Foto/US Air Force
TEL AVIV – Eskalasi konflik di Timur Tengah memasuki babak baru yang krusial. Pada Selasa, 24 Februari 2026, sedikitnya 12 unit jet tempur siluman F-22 Raptor milik Amerika Serikat resmi mendarat di pangkalan udara Israel. Langkah ini dipandang sebagai sinyal militer terkuat dari Washington di bawah pemerintahan Presiden Donald Trump untuk menekan Iran di tengah kebuntuan negosiasi nuklir.
Pengerahan Kekuatan Udara Tercanggih ke Wilayah Selatan
Penyiar publik Israel, KAN, melaporkan bahwa belasan jet tempur generasi kelima tersebut tiba di sebuah pangkalan Angkatan Udara Israel (IAF) di wilayah selatan. Kedatangan armada ini bukan tanpa alasan; F-22 Raptor dikenal sebagai pesawat superioritas udara paling canggih di dunia yang memiliki kemampuan khusus untuk menembus sistem pertahanan udara radar berlapis dan menghancurkan instalasi strategis jauh di dalam wilayah musuh.
Berdasarkan laporan The New York Times pada Rabu (25/2), pengerahan ini didukung oleh data pelacakan penerbangan yang menunjukkan pergerakan pesawat tanker pengisian bahan bakar dari Pangkalan Lakenheath, Inggris, melintasi Mediterania menuju Israel. Kehadiran F-22 ini melengkapi kekuatan udara Israel yang sudah diperkuat oleh armada F-35, secara efektif melipatgandakan potensi serangan udara terkoordinasi di kawasan tersebut.
Diplomasi di Ambang Batas: Ultimatum 10 Hari
Mengapa pengerahan ini dilakukan sekarang? Ketegangan ini dipicu oleh tenggat waktu negosiasi nuklir yang semakin sempit. Presiden AS Donald Trump telah mengeluarkan peringatan keras bahwa Washington akan mempertimbangkan opsi militer jika kesepakatan baru terkait program nuklir dan rudal balistik Iran tidak tercapai dalam waktu dekat.
“Ini menunjukkan persiapan untuk sikap yang lebih agresif terhadap Iran. Ini menandakan bahwa AS serius untuk melakukan tindakan jika Iran tidak menyetujui persyaratan yang diajukan,” ujar Letnan Jenderal (Purn) David A. Deptula, Dekan The Mitchell Institute for Aerospace Studies, sebagaimana dikutip dari Indonesia Defense.
Armada “Armada” dan Pengepungan Regional
Kedatangan F-22 di Israel hanyalah satu bagian dari teka-teki militer besar yang disusun AS. Di laut, kapal induk terbesar di dunia, USS Gerald R. Ford, dilaporkan telah memasuki kawasan Mediterania Timur setelah sempat merapat di Souda Bay, Yunani. Kapal ini bergabung dengan USS Abraham Lincoln yang sudah lebih dulu bersiaga di Teluk Persia sejak Januari 2026.
Al Arabiya melaporkan bahwa pejabat internal Israel meyakini perintah serangan militer dari Gedung Putih “semakin dekat.” Sementara itu, Iran merespons dengan melakukan latihan militer besar-besaran dan memperkuat bunker fasilitas nuklir mereka menggunakan perisai beton, menurut citra satelit terbaru yang dirilis oleh Reuters.
Respons Teheran dan Dampak Global
Pemerintah Iran melalui Wakil Menteri Luar Negeri Kazem Gharibabadi memperingatkan dalam konferensi di Jenewa bahwa setiap agresi baru akan memicu eskalasi yang tidak terbatas pada satu negara saja. Ia menegaskan bahwa tanggung jawab atas ketidakstabilan kawasan sepenuhnya berada di tangan pihak yang memulai serangan.
Di tengah situasi Siaga 1 ini, banyak negara, termasuk Indonesia melalui KBRI Tehran, mulai memantau secara intensif keselamatan warganya dan menyiapkan rencana kontingensi evakuasi jika konflik terbuka benar-benar pecah dalam hitungan hari.
Referensi Utama:
-
Laporan Berita KAN (Israel) dan Anadolu Agency terkait pendaratan F-22.
-
Analisis Strategis Indonesia Defense mengenai peran F-22 Raptor.
-
Data pergerakan armada laut dari BBC dan Al Jazeera (Februari 2026).
-
Pernyataan resmi pejabat Gedung Putih dan Kemenlu Iran.
