Ledakan dari intersepsi Iron Dome Israel saat mencegat rudal Iran di langit Tel Aviv, Sabtu (28/2/2026). Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan gabungan ke Iran, dibalas Teheran dengan menggempur pangkalan-pangkalan AS di Timur Tengah.(AFP/JACK GUEZ)
ABU DHABI – Otoritas Penerbangan Sipil Umum (GCAA) Uni Emirat Arab (UEA) mengumumkan penutupan wilayah udara negara tersebut secara “parsial dan sementara” mulai Minggu, 1 Maret 2026. Langkah darurat ini diambil menyusul eskalasi militer besar-besaran di Timur Tengah setelah serangkaian serangan udara yang melibatkan Israel, Amerika Serikat, dan tindakan balasan dari Iran.
Langkah Preventif Demi Keselamatan Penerbangan
Keputusan penutupan ini diumumkan melalui kantor berita resmi negara, WAM, yang menyatakan bahwa langkah tersebut merupakan tindakan pencegahan luar biasa untuk menjamin keselamatan penerbangan dan melindungi awak pesawat serta kedaulatan wilayah nasional. GCAA menegaskan bahwa keputusan ini diambil setelah melakukan penilaian risiko keamanan dan operasional yang komprehensif, berkoordinasi dengan entitas lokal maupun internasional.
Kondisi di lapangan menunjukkan dampak yang signifikan terhadap industri penerbangan global. Mengutip laporan dari The Hindu, bandara-bandara transit utama seperti Bandara Internasional Dubai (DXB)—yang merupakan pusat internasional tersibuk di dunia—dan Bandara Internasional Zayed di Abu Dhabi mengalami penghentian operasional atau pembatasan ketat. Berdasarkan data pelacakan penerbangan dari FlightAware, ribuan jadwal penerbangan telah terdampak sejak serangan pertama kali pecah pada Sabtu, 28 Februari 2026.
Dampak Operasional Maskapai Besar
Maskapai kebanggaan UEA, Emirates dan Etihad Airways, terpaksa membatalkan puluhan persen jadwal penerbangan mereka. Menurut data dari perusahaan analitik penerbangan Cirium yang dilansir AFP, Emirates telah membatalkan sekitar 38% penerbangannya, sementara Etihad Airways membatalkan sekitar 30% dari total jadwal harian mereka.
Dalam pernyataan resminya yang dikutip oleh Times of India, manajemen Etihad Airways mengonfirmasi penghentian sementara seluruh keberangkatan dari Abu Dhabi hingga pukul 14.00 waktu setempat pada hari Minggu. Pihak maskapai menyatakan, “Keselamatan penumpang tetap menjadi prioritas utama kami. Kami bekerja sama erat dengan pihak berwenang untuk mengelola situasi dan meminimalkan gangguan.”
Reaksi Internasional dan WNI di Lokasi
Ketegangan ini tidak hanya berdampak pada mobilitas warga lokal, tetapi juga warga asing. Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Abu Dhabi telah menetapkan status Siaga 3 bagi warga negara Indonesia di UEA. Melalui laporan Portal Informasi Indonesia (Inp.polri.go.id), KBRI mengimbau seluruh WNI untuk meningkatkan kewaspadaan, meminimalkan pergerakan di luar ruangan, dan menjauhi area yang berpotensi menjadi target militer.
Hingga berita ini diturunkan, wilayah udara di beberapa negara tetangga seperti Qatar, Kuwait, dan Bahrain juga dilaporkan masih dalam status tutup atau dibatasi secara ketat. Para pelancong internasional disarankan untuk terus memantau status penerbangan melalui kanal resmi maskapai masing-masing sebelum menuju ke bandara.
Referensi Utama:
-
General Civil Aviation Authority (GCAA) UAE via WAM News Agency.
-
Laporan Analitik Cirium & FlightAware (Maret 2026).
-
Kantor Berita AFP, The Hindu, dan Times of India (Update 1 Maret 2026).
-
Pernyataan Resmi KBRI Abu Dhabi (Status Siaga 3).
