Petugas menunjukkan salah satu unit kamera trap (kamera pengintai) yang terpasang pada batang pohon di kawasan hutan Suaka Margasatwa Gunung Sawal, Ciamis. Sumber Foto: insiden24.com
CIAMIS – Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Barat mengambil langkah masif untuk menjaga kelestarian Macan Tutul Jawa (Panthera pardus melas) di kawasan Suaka Margasatwa (SM) Gunung Sawal, Kabupaten Ciamis. Sebanyak 160 titik kamera pemantau (camera trap) telah disebar secara strategis guna memantau populasi dan pergerakan sang predator yang kini berstatus terancam punah.
Mitigasi Konflik dan Pemetaan Populasi
Pemasangan ratusan kamera ini bukan tanpa alasan. Langkah tersebut diambil sebagai respons cepat menyusul laporan intensif dari warga di kaki gunung mengenai penampakan macan tutul yang mulai mendekati area pemukiman dan lahan garapan. Fenomena ini seringkali memicu kekhawatiran masyarakat akan keamanan ternak maupun keselamatan jiwa.
Kepala Bidang KSDA Wilayah III Ciamis menjelaskan bahwa pemasangan ini bertujuan untuk mendapatkan data akurat mengenai jumlah individu yang tersisa, pola sebaran, serta kondisi habitat terkini. Dengan data dari kamera trap, petugas dapat menganalisis apakah munculnya macan ke pemukiman disebabkan oleh kerusakan habitat, berkurangnya pakan alami, atau sekadar perlintasan teritorial.
Implementasi Teknologi di Medan Berat
Sejak awal Januari 2026, tim gabungan yang terdiri dari polhut BBKSDA, aktivis lingkungan, dan peneliti mulai menyisir jalur-jalur rimbun di SM Gunung Sawal untuk menempatkan perangkat sensor gerak tersebut. Fokus utama pemasangan berada pada koridor-koridor yang diidentifikasi sebagai jalur aktif pergerakan macan, terutama di area yang berbatasan langsung dengan desa-desa rawan konflik.
“Pemasangan 160 unit kamera ini merupakan upaya inventarisasi terbesar yang pernah kami lakukan di blok Gunung Sawal. Kami ingin memastikan data populasi yang valid agar langkah konservasi ke depan lebih tepat sasaran,” ujar perwakilan BBKSDA Jawa Barat dalam keterangan resminya.
Melibatkan Masyarakat dalam Konservasi
Selain aspek teknis, pihak otoritas juga menekankan pentingnya edukasi bagi warga sekitar. BBKSDA mengimbau masyarakat untuk tidak bertindak anarkis jika berpapasan dengan kucing besar tersebut. Pemasangan kamera ini diharapkan dapat memberikan bukti visual yang membantu warga memahami bahwa hutan Gunung Sawal masih menjadi rumah yang sehat bagi macan tutul, asalkan batas-batas wilayah dihormati.
Atribusi data ini merujuk pada laporan teknis pemantauan keanekaragaman hayati BBKSDA Jawa Barat, yang menegaskan bahwa SM Gunung Sawal adalah salah satu kantong populasi terpenting bagi Macan Tutul Jawa di wilayah timur Jawa Barat.
Harapan bagi Kelestarian Ekosistem
Dengan adanya pengawasan 24 jam melalui camera trap, diharapkan tidak hanya populasi macan tutul yang terpantau, tetapi juga ketersediaan satwa mangsa seperti babi hutan dan kijang. Keberhasilan pemantauan ini akan menjadi landasan bagi pemerintah daerah dan pusat untuk menetapkan kebijakan perlindungan kawasan yang lebih ketat, guna memastikan rantai makanan di Gunung Sawal tetap terjaga.
Referensi Utama: Data diolah berdasarkan Laporan Publikasi Bidang KSDA Wilayah III Ciamis dan Protokol Pemantauan Satwa Liar BBKSDA Jawa Barat tahun 2025/2026.
