Misteri Teror Hewan Buas di Kuningan: 16 Domba Mati dengan Luka Gigitan di Leher

Petugas dari Dinas Perikanan dan Peternakan (Disnakkan) Kabupaten Kuningan saat melakukan pemeriksaan fisik terhadap bangkai domba yang mati secara misterius di Desa Ciwaru, Kuningan, Jawa Barat. Sebanyak 16 ekor domba ditemukan tewas dengan bekas luka gigitan di bagian leher yang diduga akibat serangan predator liar. Sumber: Dok. Istimewa / Humas Disnakkan Kuninga

KUNINGAN – Warga Desa Ciwaru, Kecamatan Ciwaru, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, digegerkan oleh fenomena misterius yang menimpa hewan ternak mereka. Sebanyak 16 ekor domba ditemukan mati secara mengenaskan di dalam kandang dalam kurun waktu yang berdekatan. Kejadian ini memicu kekhawatiran warga akan adanya serangan predator atau hewan liar yang turun dari kawasan hutan sekitar.

Kronologi Penemuan Ternak yang Mati Tragis

Peristiwa ini pertama kali diketahui oleh para peternak setempat pada pagi hari saat hendak memberi pakan. Berdasarkan laporan lapangan, belasan domba tersebut ditemukan tergeletak tak bernyawa dengan pola luka yang serupa, yakni bekas gigitan di bagian leher. Anehnya, predator tersebut tidak memakan daging mangsanya, melainkan hanya menghisap darah atau meninggalkan luka fatal di bagian vital.

Kematian massal ini terjadi di beberapa titik kandang milik warga yang lokasinya memang berdekatan dengan area perbukitan. Sebagaimana dilaporkan oleh Radar Kuningan, pihak kepolisian dan petugas dari Dinas Perikanan dan Peternakan (Disnakkan) Kabupaten Kuningan telah turun ke lokasi untuk melakukan pengecekan fisik pada bangkai domba guna mengidentifikasi jenis pemangsa.

Analisis Luka dan Dugaan Jenis Predator

Dinas Perikanan dan Peternakan Kabupaten Kuningan melalui keterangan resminya menduga bahwa serangan ini dilakukan oleh sekelompok hewan karnivora. Pola serangan yang mengincar leher dan tidak menghabiskan daging menunjukkan karakteristik berburu hewan liar seperti ajag (anjing hutan) atau macan tutul yang habitatnya mulai terganggu.

“Kondisi domba rata-rata mengalami luka robek di bagian leher dan perut. Kami sedang berkoordinasi dengan BKSDA untuk memastikan apakah ini serangan anjing liar atau hewan dilindungi dari kawasan hutan,” ungkap salah satu petugas lapangan di lokasi kejadian.

Langkah Antisipasi dan Reaksi Warga

Menanggapi teror ini, warga Desa Ciwaru kini meningkatkan kewaspadaan. Sejak insiden 16 domba mati tersebut, aktivitas ronda malam atau siskamling diperketat, terutama di area kandang ternak yang jauh dari pemukiman. Peternak juga mulai memperkuat struktur kandang dengan pagar kawat tambahan untuk mencegah masuknya hewan liar.

Dikutip dari laporan Kompas.com, fenomena ini sebenarnya bukan pertama kali terjadi di wilayah Kuningan yang bersinggungan langsung dengan kaki Gunung Ciremai. Namun, jumlah korban yang mencapai 16 ekor dalam waktu singkat menjadikannya salah satu insiden paling meresahkan di awal tahun 2026 ini.

Referensi Media Utama (Atribusi)

Artikel di atas mengacu pada laporan investigasi dan berita lapangan dari media lokal dan nasional yang kredibel dalam meliput kejadian serangan hewan liar di wilayah tersebut:

  • Radar Kuningan (Grup Disway): Digunakan sebagai referensi utama untuk data jumlah ternak dan lokasi spesifik di tingkat kecamatan dan desa (Ciwaru/Cibingbin). Media ini merupakan sumber primer untuk kejadian-kejadian lokal di wilayah Kuningan.

  • Kompas.com (Regional Jawa Barat): Digunakan sebagai referensi pembanding terkait pola serangan serupa yang pernah terjadi di kaki Gunung Ciremai, serta keterlibatan pihak BKSDA (Balai Konservasi Sumber Daya Alam).

  • Tribun Jabar: Digunakan untuk memperkuat data mengenai reaksi warga dan aktivitas siskamling sebagai langkah mitigasi pasca-kejadian.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *