Sule di Prikitiew Land
SUBANG – Di tengah ketatnya persaingan industri pariwisata pascapandemi, komedian papan atas Entis Sutisna atau yang akrab disapa Sule, menerapkan strategi unconventional (tidak biasa) untuk menjaga keberlangsungan bisnis wisata miliknya, Prikitiw Land. Berbeda dengan mayoritas tempat rekreasi yang melarang keras pengunjung membawa makanan dari luar, Sule justru membebaskan wisatawan membawa perbekalan, mulai dari nasi rantang, tikar, hingga air minum dalam kemasan galon.
Objek wisata yang berlokasi di Desa Balingbing, Kecamatan Pagaden Barat, Kabupaten Subang, Jawa Barat ini, dulunya dikenal sebagai Taman Anggur Kukulu. Sule mengakuisisi tempat tersebut bukan melalui rencana bisnis matang, melainkan bermula dari penyelesaian masalah utang piutang.
“Awalnya itu (taman) dari utang piutang. Ada teman punya utang dua miliar (rupiah), dia tidak bisa bayar, akhirnya asetnya saya ambil,” ungkap Sule dalam sebuah wawancara media di Jakarta, pertengahan Februari 2026.
Investasi Besar dan Risiko Bisnis
Berdasarkan data finansial yang diungkapkan, Sule tidak hanya berhenti pada akuisisi aset senilai Rp 2 miliar tersebut. Ia kemudian menggelontorkan dana pribadi tambahan sekitar Rp 8 miliar untuk merombak total fasilitas, membangun wahana waterboom, seluncuran pelangi (rainbow slide), hingga panggung hiburan rakyat.
Dengan total valuasi aset dan investasi yang menyentuh angka Rp 10 miliar, Sule menyadari risiko besar membayangi bisnis ini. Hingga awal tahun 2026, operasional Prikitiw Land diakui masih dalam tahap “bakar uang” dan belum mencapai Break Even Point (BEP) atau balik modal.
Kondisi inilah yang mendorong ayah dari Rizky Febian itu memutar otak. Ia memilih strategi volume pengunjung dibanding margin penjualan makanan f&b (food and beverage).
Logika Ekonomi Kerakyatan
Kebijakan membolehkan pengunjung membawa “galon dan tikar” didasari oleh analisis perilaku konsumen kelas menengah ke bawah yang menjadi target pasar utamanya. Sule berargumen bahwa pelarangan membawa makanan sering kali menjadi hambatan psikologis bagi keluarga besar untuk berwisata.
“Strateginya begini, biarkan mereka bawa makanan sendiri. Pagi mereka makan bekal, tapi siang atau sore setelah lelah main air, bekal habis, mereka pasti lapar dan haus lagi. Di situlah mereka akan beli di pedagang kita,” jelas Sule.
Namun, kebebasan bagi pengunjung ini dibarengi dengan ketegasan terhadap mitra pedagang di dalam area wisata. Sule memberlakukan aturan ketat: pedagang dilarang menaikkan harga secara tidak wajar (mark up berlebihan) dan dilarang memprotes kebijakan bekal tersebut.
“Kalau ada pedagang yang komplain karena pengunjung bawa makanan, saya keluarkan. Kita harus mengerti kondisi pengunjung. Kalau mereka nyaman, mereka akan kembali lagi,” tegas komedian jebolan Audisi Pelawak TPI (API) tersebut.
Fasilitas dan Aksesibilitas
Saat ini, Prikitiw Land terus berupaya meningkatkan okupansi dengan mempertahankan harga tiket yang terjangkau, yakni di kisaran Rp 10.000 hingga Rp 15.000 per orang. Strategi “harga kaki lima fasilitas bintang lima” ini diharapkan mampu menjaga arus kas operasional tetap positif meski belum mencetak laba bersih yang signifikan.
Langkah Sule ini dinilai sebagai bentuk adaptasi cerdas dalam ekonomi kreatif, di mana kenyamanan dan experience (pengalaman) pengunjung menjadi aset investasi jangka panjang yang lebih bernilai daripada keuntungan penjualan makanan sesaat.
Referensi dan Sumber Data:
-
Wawancara Eksklusif: Podcast HAS Creative bersama Praz Teguh (Februari 2026) – Sumber kutipan langsung mengenai strategi bisnis dan sejarah utang piutang.
-
Berita Daring: Kompas.com (18 Februari 2026) – Artikel terkait kebijakan pedagang di Prikitiw Land.
-
Data Lokasi & Harga: Tribun Jabar dan Suara.com – Data lokasi administratif Subang dan kisaran harga tiket masuk 2025-2026.
